Sastra itu apa? Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal
bentuk kesusastraan, yang berasal dari imbuhan ke-an dan susastra.
Imbuhan ke-an sendiri secara gramatikal bermakna “hal/sesuatu yang
berkaitan dengan…”. Adapun susastra berasal dari dua bentuk, yaitu
awalan asing su- yang berarti ‘baik/bagus’ dan kata dasar sastra yang
berarti ‘tulisan/karangan’. Jadi, susastra itu bermakna ‘tulisan/karangan yang
bagus’. Itu adalah arti harfiah, atau boleh juga kita sebuat arti
etimolgisnya.
Lantas, apa arti istilahnya? Atau, apa arti susastra
dalam terminologi keilmuannya? Sudah sangat banyak definisi dan yang
mendefinisikan sastra. Tapi, definisi-definisi yang muncul tidak selalu
mememuaskan, demikian pengakuan ahli sastra Jan van Luxemburg, Mieke Bal, dan
Willem G. Weststeijn (1986). Kenapa? Alasan mereka adalah sebagai berikut:
Pertama, sering orang mendefinisikan sastra sangat-sangat
komprehensif, ingin mencakup semuanya, dalam sebuah definisi saja. Padahal,
harus dibedakan sebuah definisi deskriptif tentang sastra, dan sebuah definisi
evaluatif. Definisi deskriptif tentang sastra adalah definisi yang dibuat untuk
menjawab pertanyaan, “Apa itu sastra?” Sebaliknya, definisi evaluatif
adalah definisi yang akan dipakai untuk menilai apakah sebuah karya sastra
termasuk karya yang baik atau tidak?
Kedua, ada juga orang yang berusaha mendefinisikan
sastra secara “ontologis”, lahirlah definisi-definisi yang mengungkapkan
hakikat sebuah karya sastra. Mereka lantas melupakan bahwa sastra
hendaknya didefinisikan di dalam situasi para pemakai atau pembaca sastra. Juga
mereka melupakan, sementara ada orang yang menganggap sebuah karya
sebagai sastra, tetapi sebagian lainnya menganggap karya itu bukan sebagai
karya sastra.
Ketiga, mengacu point kedua di atas, sering pendefinisi
membawa definisi sastra berdasarkan dari contoh-contoh sastra Barat sehingga
tidak menghiraukan bentuk-bentuk sastra yang khas di luar lingkungan itu, juga
membawa sastra dari sebuah zaman tertentu dengan melupakan sastra-sastra pada
sebuah zaman tertentu dan lingkungan tertentu.
Keempat, ada juga definisi sastra yang mengacu kepada
satu bentuk karya sastra saja, misalnya pada puisi. Sehingga, definisi tersebut
sangat sulit dipakai untuk mendefinisikan bentuk karya sastra yang lain seperti
prosa dan drama, misalnya.
Kata
"seni" adalah sebuah kata yang semua orang di pastikan mengenalnya,
walaupun dengan kadar pemahaman yang berbeda. Konon kabarnya kata seni berasal
dari kata "SANI" yang kurang lebih artinya "Jiwa Yang Luhur/
Ketulusan jiwa". Mungkin saya memaknainya dengan keberangkatan orang/
seniaman saat akan membuat karya seni, namun menurut kajian ilimu di eropa
mengatakan "ART" (artivisial) yang artinya kurang lebih adalah
barang/ atau karya dari sebuah kegiatan. Namun kita tidaka usah mempersoalkan
makna ini, karena kenyataannya kalu kita memperdebatkan makna yang seperti ini
akan semakain memperkeruh suasana kesenian, biarlah orang memilih yang mana
terserah mereka.
Berdasarkan
penelitian para ahli menyatakan seni/karya seni sudah ada + sejak 60.000 tahun
yang lampau. Bukti ini terdapat pada dinding-dinding gua di Prancis Selatan.
Buktinya berupa lukisan yang berupa torehan-torehan pada dinding dengan
menggunakan warna yang menggambarkan kehidupan manusia purba. Artefak/bukti ini
mengingatkan kita pada lukisan moderen yang penuh ekspresi. Hal ini dapat kita
lihat dari kebebaan mengubah bentuk. Satu hal yang membedakan antara karya seni
manusia Purba dengan manusia Moderen adalah terletak pada tujuan penciptaannya.
Kalau manusia purba membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya adalah
semat-mata hanya untuk kepentingan Sosioreligi, atau manusia purba adalah
figure yang masih terkungkung oleh kekuatan-kekuatan di sekitarnya. Sedangkan
manusia moderen membuat karya seni/penanda kebudayaan pada massanya digunakan
untuk kepuasan pribadinya dan menggambarkan kondisi lingkungannya
"mungkin". Dengan kata lain manusia moderen adalah figure yang ingin
menemukan hal-hal yang baru dan mempunyai cakrawala berfikir yang lebih luas.
Semua bentuk kesenian paa jaman dahulu selalu ditandai dengan kesadaran magis;
karena memang demikian awal kebudayaan manusia. Dari kehidupan yang sederhana
yang memuja alam sampai pada kesadaran terhadap keberadaan alam
Pada
awalnya seni diciptakan untuk kepentingan bersama/milik bersama.karya- karya
seni yang ditinggalkan pada masa pra-sejarah digua-gua tidak pernah menunjukan
identitas pembuatnya. Demikian pula peninggalan-peninggalan dari masa lalu
seperti bangunan atau artefak di mesir kuno, Byzantium, Romawi, India, atau
bahkan di Indonesia sendiri. Kalupun toh ada penjelasan tertentu pada artefak
tersebut hanya penjelasan yang menyatakan benda/bangunan tersebut di buat untuk
siapa". Ini pun hanya ada pada setelah jaman, katanya para ahli arkiologi
sich saya sendiri tidak tahu pasti. Kita bisa menyimpulkan kesenian pada jaman
sebelum moderen kesenian tidak beraspek individulistis.
Sejak
kapan fungsi individulistis dari seni mulai tampak ?, katanya para sejarawan
lagi, beliau-beliau mengatakan sejak seni memasuki jaman moderen. Kenapa ini
bisa terjadi ? (ini kata saya sedikit mengutip kata-kata para ahli yang
terdahulu). Karena mengikuti pola berfikir manusia yang maunya mencari kebaruan
dan membuat perubahan (entah baik atau buruk).
Begini
ceritanya :Dalam sejarah seni terjadi banyak pergeseran. Sejak renaisans atau
bahkan sebelumnya , basis-basis ritual dan kultis dari karya seni mulai
terancam akibat sekularisasi masyarakat. Situasi keterancaman itu mendorong
seni akhirnya mulai mencari otonomi dan mulai bangkit pemujaan sekular atas
keindahan itu sendiri. Dengan kata lain fungsi seni menjadi media ekspresi, dan
setiap kegiatan bersenian adalah berupa kegiatan ekspresi kreatif, dan setiap
karya seni merupakan bentuk yang baru, yang unik dan orisinil. Karena sifatnya
yang bebas dan orisinal akhirnya posisi karya seni menjadi individualistis.
Seni
pada perkembangannya di jaman moderen mengalami perubahan atau pembagian yakni
seni murni atau seni terapan/ seni dan desain yang lebih jauh lagi seni dan
desain oleh seorang tokoh pemikir kesenian yang oleh orang tuanya di beri nama
Theodor Adorno di beri nama "Seni Tinggi" untuk Seni Murni dan
"Seni Rendah" untuk Seni Terapan atau Desain. Karena menurutnya dalam
seni tinggi seorang seniman tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal
(kebutuhan pasar/bertujuan komersial) dalam menciptakan sebuah karya seni/murni
ekspresi, sedangkan seni rupa rendah adalah seni yang dalam penciptaannya
dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal. Adorno menganggap seni harus berbeda
harus berbeda dengan benda lain (barang); ia harus mempunyai
"sesuatu". Sesuatu itu tidak sekedar menjadi sebuah komoditas. Karena
sebuah karya atau benda yang sebagai komoditas akan menghancurkan semangat
sosial, pola produksi barang yang menjadi komoditas adalah pola yang ditentukan
dari atas oleh seorang produsen.
Terakhir
kita menuju pada jaman Post-moderen/Kontemporer. Di jaman Kontemporer ini
bentuk kesenian lebih banyak perubahannya baik secara kebendaan atau kajian
estetiknya, yang lebih dahsyat lagi landasan logikanya. Mungkin disini saya
akan memberi sedikit ilustrasi :
Di
era Kontemporer ini aturan-aturan yang telah ada seolah-olah dihancurkan, yang
dulunya karya seni itu harus menyenangkan, sekarang malah bisa sebaliknya. Yang
dulunya karya seni itu setidaknya masih mempertimabangkan etika sosial, etika
agama atau etika-etika yang lain, namun sekarang mungkin kesemuanya itu bisa
jadi hanya sebagai aturan usang. Radikal,.ya..???. itu hanya kelihatannya ????.
Kondisi
ini terjadi karena seniman sudah pada titik jenuh dan marah
"mungkin". Marah atau jenuh pada siapa :1. Pada lingkungannya atau
pada sesutau yang telah ada2. Atau para seniman marah dan muak pada perlakuan
pasar kapitalismeyang menurutnya terlalu radikal terhadap karya seni. Yang
sedikit-sedikit karya seni itu dinilai dengan nominal. Padahal karya seni itu
sebelum dinilai adalah "nol". Selebihnya adalah makna, ide,
representasi, rekreasi, acuan etik, dokumentasi "politik" dan
"sejarah", perlawanan, luka, kekecawaan, paradigma, atau sekedar
main-main belaka, dll (ini katanya Adi Wicaksono yang sepertinya seorang
kritikus seni yang dari Jogya itu..Lho..!!!!). 3. Atau para seniman marah pada
kritikus yang dalam kritiknya memberikan pemaknaan yang terlalu sembrono
sehingga esensi pesan dari karyanya menjadi tidak-karuan.
Di
era kontemporer ini juga banyak lahir bentuk seni yang baru semisal: 1. Klik
Art : yang dalam pembuatannya seseorang tidak harus membuatnya dengan Hand Made
(melukisnya sendiri). Dalam Klik Art ini siapa saja bisa membuat lukisan dengan
memanfaatkan gambar yang ada atau lukisan orang lain yang mungkin di rubah atau
ditambahi bahkan dikurangi. Tapi perlu di ingat dalam klik art ini kamu harus
bisa mengoperasikan komputer dan progaram- progaramnya yang di gunakan dalam
kegiatan ini, misalnya: Corel Draw, Photosop, atau yang lainnya, begitu.2. Net
Art : adalah bentuk seni yang mana dalam pamerannya dilakukan diruang maya
(Internet), di net art ini kamu bisa mengubah gambarnya juga lho, atau
mengurangi dan menambahi, atau mungkin kamu mangganti inisial pembuatnya
dengan namamu itu sah-sah saja tidak ada yang melarang kok. Namun perlu di
ingat walaupun kamu merubah atau mengganti inisial pencipta pada karya net art
ini sipembuat akan semakain bangga karena ia merasa menang dan puas karena
karyanya ternyata interaktif dan lebih parah lagi kamu sudah masuk perangkap
permainan sang pembuat. Satu lagi yang terkenal bukan kamu namun si pemilik
situs dimana karya itu di muat,...tahu nggak ////// kapok kon salah' e dewe.
Tapi asik kok coba saja. 3. Vidio Art/vidio instalasi : vidio art ini tidak
beda dengan seni instalasi yang mana dalam aktulisasinya si seniman memanfatkan
teknologi telvisi yang terkoneksi dengan vidio, atau komputer, jadi pesan yang
ingin di sampaikan si kreator itu di serahkan pada seonggok mesin, tapi kadang
si kreator juga menyertakan tubuhnya atau tubuh orang lain, yang sepertinya
kita melihat itu mirip seni pertunjukan, namun ini bukan seni pertunjukan lho,
karena masih ada unsure rupa-nya, namun juga bukan seni rupa lho karana dalam
vidio art ini unsure gerak, bunyi, dan sastra juga di pakai. Dan banyak bentuk
seni-seni yang lain.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar